Share it...!

Rabu, 28 September 2011

Pandangan Orientalis Tentang Sumber Tasawuf

MAKALAH TASAWUF
Ayat-Ayat dan Hadits-Hadits Sebagai Sumber Tasawuf
&
Pandangan Orientalis Tentang Sumber Tasawuf




Dosen Pembimbing:
Dr.Ahmad Khudori Saleh,M.Ag

Oleh:
Fadlur Rahman
NIM: 10410002


JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2011



BAB I
PENDAHULUAN
Puji syukur kehadirat Allah, yang telah mengilhami para salaf sufiyah dengan ilmu ihsannya yang dewasa ini berwujud menjadi ilmu tasawuf, sebagai bukti buat kita bahwa apapun yang Allah kehendaki jadi, pasti jadilah ia. Sholawat beriring salam semoga tersampaikan khusus kepada nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul rujukan kedua setelah Allah bagi para sufi dalam mempelajari, mendalami dan mengembangkan ilmunya di jagat Allah ini.
Agama Islam ialah agama yang sempurna, yang didalamnya mengatur berbagai hal yang terkait dengan perjalan manusia. Dalam hal ibadah, akhlak, muamalah, pendidikan, dan ketinggian nilai-nilai kemanusiaan, semuanya diatur dalam ajaran islam. Begitupun juga halnya dengan tasawuf yang telah ada sejak dahulu hingga sekarang.
Dalam makalah yang cukup singkat ini penulis akan membahas tentang Sumber-sumber Ilmu Tasawuf yang dianggap penting untuk mengetahui apa yang para sufi jadikan dasar sehingga mereka mengamalkan ilmu tasawuf tersebut. Namun dalam hal ini yang penulis maksudkan dengan sumber disini adalah: Ayat yang menjadi sumber ajaran tasawuf, dan disini penulis juga membahas tentang pandangan kaum orientalis terhadap sumber tasawuf.
Semoga dengan adanya makalah yang begitu singkat ini dapat memberikan informasi kepada kita tentang hal-hal yang menjadi sumber dari ilmu tasawuf tersebut, sehingga menjadikan kita lebih bersyukur kepada Allah SWT, yang telah menjadikan segala sesuatu dengan penuh hikmah didalamnya. Selanjutnya penulis mohon maaf bila ada kesalahan di dalam penulisan makalah ini dan mohon adanya kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun untuk perbaikan kedepannya.







BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Tasawuf
Sedikit mengulas tentang pengertian tasawuf, ada beberapa pendapat tentang asal-usul kata tasawuf. Ada yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata safa’, artinya suci, bersih atau murni. Karena memang, jika dilihat dari segi niat maupun tujuan dari setiap tindakan dan ibadah kaum sufi, maka jelas bahwa semua itu dilakukan dengan niat suci untuk membersihkan jiwa dalam mengabdi kepada Allah SWT.
Ada lagi yang mengatakan tasawuf berasal dari katasaff, artinya saff atau baris. Dinamakan sebagai para sufi, karena berada pada baris ( saff ) pertama di depan Allah, karena besarnya keinginan mereka akan Dia dan kecenderungan hati mereka terhadap- Nya.
Ada pula yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari katasuffah atau suffah al Masjid, artinya serambi mesjid. Istilah ini dihubungkan dengan suatu tempat di Mesjid Nabawi yang didiami oleh sekelompok para sahabat Nabi yang sangat fakir dan tidak mempunyai tempat tinggal. Mereka dikenal sebagai ahli suffah. Mereka adalah orang yang menyediakan waktunya untuk berjihad dan berdakwah serta meninggalkan usaha-usaha duniawi. Jelasnya, mereka dinamakan sufi karena sifat-sifat mereka menyamai sifat orang-orang yang tinggal di serambi mesjid ( suffah ) yang hidup pada masa nabi SAW.
Sementara pendapat lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari katasuf, yaitu bulu domba atau wol. Hal ini karena mereka ( para sufi ) tidak memakai pakaian yang halus disentuh atau indah dipandang, untuk menyenangkan dan menenteramkan jiwa. Mereka memakai pakaian yang hanya untuk menutupi aurat dengan bahan yang terbuat dari kain wol kasar (suf ). Sedangkan tasawuf menurut beberapa tokoh sufi adalah seperti berikut:
1.      Bisyri bin Haris mengatakan bahwa sufi ialah orang yang suci hatinya menghadap Allah SWT.
2.      Sahl at-Tustari mengatakan bahwa sufi ialah orang yang bersih dari kekeruhan, penuh dengan renungan, putus hubungan dengan manusia dalam menghadap Allah SWT, dan baginya tiada beda antara harga emas dan pasir.
3.      Al-Junaid al-Bagdadi ( 289 H ), tokoh sufi modern, mengatakan bahwa tasawuf ialah membersihkan hati dari sifat yang menyamai binatang dan melepaskan akhlak yang fitri, menekan sifat basyariah ( kemanusiaan ), menjauhi hawa nafsu, memberikan tempat bagi kerohanian, berpegang pada ilmu kebenaran, mengamalkan sesuatu yang lebih utama atas dasar keabadiannya, memberi nasihat kepada umat, benar-benar menepati janji terhadap Allah SWT, dan mengikuti syari’at Rasulullah SAW.
4.      Abu Qasim Abdul Kari mal-Qusyairi memberikan definisi bahwa tasawuf ialah menjabarkan ajaran-ajaran al-Qur’an dan sunah, berjuang mengendalikan nafsu, menjauhi perbuatan bid’ah, mengendalikan syahwat, dan menghindari sikap meringan-ringankan ibadah.
5.      Abu Yazid al-Bustami secara lebih luas mengatakan bahwa arti tasawuf mencakup tiga aspek, yaitu kha ( melepaskan diri dari perangai yang tercela ),ha ( menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji ) dan jim ( mendekatkan diri kepada Tuhan).
B.       Ayat-ayat dan Hadits-hadits Yang Menjadi Sumber Ajaran Tasawuf
Ayat-ayat dan hadits yang menjadi sumber ajaran tasawuf dan sebagai pendorong untuk mengikatkan dan mendekatkan diri kepada Allah, di antaranya adalah sebagai berikut:
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya” (Al-Maidah: 54)
Artinya: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.” (Al-Baqoroh: 115)

Artinya: “Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.” (Al-Anfal: 17)
إذا تقرب العبدى إلي شبرا تقربت إليه ذراعا وإذا تقرب إلي ذراعا تقربت منه باعا وإذا أتانى يمش أتيته هرولة (رواه البخار)
Artinya: “Jika seorang hamba mendekat kepada-Ku sejengkal maka Aku mendekatinya sehasta, jika dia mendekat sehasta, maka Aku mendekat sedepa, jika dia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang kepadanya berlari (H.R.Bukhari)”.
لا يزال العبدى يتقرب إني بالنوابل حت احبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره يبصربه ولسانه الذي ينطق به ويده التي يبطش بها ورجل التي يسعي بهافى يسمع وبي يبصر وبي ينطق وبي يعقل وبي يبطش وبي يمشي (رواه البخار)
Artinya: “Senantiasa hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan amal nawafil sehingga Aku mencintainya, apabila Aku mencintainya jadilah Aku pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, matanya yang dipergunakan untuk melihat, lidahnya yang digunakan untuk berbicara, tangannya yang digunakan untuk menggenggam, kakinya yang digunakan untuk berjalan, dengan Aku dia mendengar, berpikir, menggengam, dan berjalan (H.R. Bukhari)”.
            Ayat-ayat dan hadits-hadits diatas adalah yang menjadi sumber ajaran tasawuf, dan tidak hanya itu, masih ada lagi ayat-ayat dan hadits-hadits yang menjadi sumber ajaran tasawuf, misalnya:
-          Konsep Tentang Kewalian

Artinya: “Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Yunus: 62)
-          Ajaran Tawakkal

Artinya: “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (At Talaaq: 3)
-          Ajaran Tentang Dzikir

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.”(Al-Ahzab: 41)
-          Konsep Taqwa
 
Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”(Al Hujrat 13)
-          Ajaran Riyadlah

Artinya: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).”(An Naziaat: 40-41)
-          Perilaku Asketik

Artinya: “Katakanlah: "Kesenangan di dunia Ini Hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa,” (An Nisa’: 77)
-          Ajaran Sabar

Artinya:“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.”(An Nahl: 127)
C.      Pandangan Orientalis Tentang Sumber-sumber Tasawuf
Para ahli berbeda pendapat tentang asal sumber Tasawuf. Pertama, kelompok yang menganggap bahwa Tasawuf berasal dari sumber Persia dan Majusi, seperti yang disampaikan Dozy dan Thoulk. Alasannya, sejumlah besar orang-orang Majusi di Iran utara tetap memeluk agama mereka setelah penaklukan Islam dan banyak tokoh sufi yang berasal dari daerah Khurasan. Di samping itu, sebagian pendiri aliran-aliran sufi berasal dari keturunan orang Majusi, seperti Ma`ruf al-Kharki dan Bayazid Busthami.
Kedua, kelompok yang beranggapan bahwa Tasawuf berasal dari sumber-sumber Kristen, seperti dikatakan Von Kramer, Ignaz Goldziher, Nicholson, Asin Palacios dan O'lery. Alasannya, (1) adanya interaksi antara orang-orang Arab dan kaum Nasrani pada masa jahiliyah maupun zaman Islam; (2) adanya segi-segi kesamaan antara kehidupan para Sufi, dalam soal ajaran, tata cara melatih jiwa (riyadlah) dan mengasingkan diri (khalwat), dengan kehidupan Yesus dan ajarannya, juga dengan para rahib dalam soal pakaian dan cara bersembahyang.
Ketiga, kelompok yang beranggapan bahwa Tasawuf ditimba dari India, seperti pendapat Horten dan Hartman. Alasannya, kemunculan dan penyebaran irfan (tasawuf) pertama kali adalah di Khurasan, kebanyakan dari para sufi angkatan pertama bukan dari kalangan Arab, seperti Ibrahim ibn Adham , Syaqiq al-Balkh dan Yahya ibn Muadz. Pada masa sebelum Islam, Turkistan adalah pusat agama dan kebudayaan Timur serta Barat. Mereka memberi warna mistisisme lama ketika memeluk Islam. Konsep dan metode tasauf seperti keluasan hati dan pemakaian tasbih adalah praktek-praktek dari India.
Keempat, kelompok yang menganggap Tasawuf berasal dari sumber-sumber Yunani, khususnya Neo-Platonisme dan Hermes, seperti disampaikan O'leary dan Nicholson. Alasannya, ‘Theologi Aristoteles' yang merupakan paduan antara sistem Porphiry dan Proclus telah dikenal baik dalam filsafat Islam. Kenyataannya, Dzun al-Nun al-Misri (796-861 M), seorang tokoh sufisme dikenal sebagai filosof dan pengikut sains Hellenistik. Jabiri agaknya termasuk kelompok ini. Menurutnya, Tasawuf diadopsi dari ajaran Hermes, sedang pengambilan dari teks-teks Al-Qur`an lebih dikarenakan tendensi politik. Sebagai contoh, istilah maqamat yang secara lafzi dan maknawi diambil dari Al-Qur`an (QS.Al-Fusilat 164), identik dengan konsep Hermes tentang mi`raj, yakni kenaikan jiwa manusia setelah berpisah dengan raga untuk menyatu dengan Tuhan. Memang ada kata maqamat dalam Al-Qur`an tetapi dimaksudkan sebagai ungkapan tentang pelaksanaan hak-hak Tuhan dengan segenap usaha dan niat yang benar, bukan dalam arti tingkatan atau tahapan seperti dalam istilah al-Hujwiri.
D.    Tanggapan Tentang Pandangan Orientalis
1.      Tasawuf berasal dari Persia dan Majusi
Perkembangan tasawuf bukan hanya upaya Ma’ruf al-Kharki (815) dan Bayazid al-Bustami (877), tetapi banyak oleh tokoh lain yg bahkan lebih berpengaruh, seperti al-Ghazali (1111), Abd Qadir Jailani (1253), Syadzili  (1258).
Kedua tokoh tersebut baru muncul setelah masa Rasul, shahabat dan tokoh sufi angkatan pertama, seperti Hasan Basri (728 M), Malik ibn Dinar (748), Rabi’ah al-Adawiyah (752) dan Ibrahim abn Adham (782). Artinya, orientalis mengabaikan peran dan pengaruh kehidupan Rasul, shahabat dan tokoh-tokoh angkatan pertama ini.
2.      Tentang tasawuf berasal dari Kristen
Kemiripan tingkahlaku sufi degan kehidupan Yesus tidak cukup kuat dijadikan argumen, karena substansi ajaran agama adalah sama. Jika Islam terpengaruh Kristen berarti Kristen  juga dipengaruh agama sebelumnya karena adanya kesamaan Yesus dgn Hindu.
Adanya terminologi Kristen dalam sufi seperti yg disampaikan al-Hallaj (858-913) degan istilah nasut dan lahut baru muncul belakangan setelah sufisme cukup mapan.
Kenyataan ajaran al-Qur’an, Sunnah dan perilaku Rasul serta shahabat lebih menyakinkan bahwa sufisme berasal dari Islam sendiri.
Nicolson sendiri akhirnya menolak sufisme berasal dari luar Islam, meski diakui bahwa ajaran luar memberi pengaruh pada perkembangan tasawuf.
3.      Tasawuf berasal dari India dan Hindu
Tidak ada bukti yang kuat bahwa kaum sufi mengatahui adanya doktrin dan metode pelatihan ruhani dari Hindu, kecuali pada Abd al-Haq ibn Sab’in (1270 M) lewat bukunya Risalah al-Nuriyah. Tapi ini terjadi setelah sufisme hidup selama 6 abad, sehingga tudingan tersebut tidak ada artinya. Kaum orientalis sendiri, seperti Nicolson, O’lery dan Browne menolak pendapat ini
4.      Sufisme berasal dari Yunani
Filsafat Yunani baru dikenal dalam Islam setelah proses penterjemahan pada masa al-Makmun (825 M), sedang tokoh sufisme angkatan pertama hidup 1 abad sebelumnya, seperti Hasan Basri (728) Rabiah Adawiyah (752), bahkan masa Rasul dan shahabat telah ada jauh sebelumnya.
Para sufi sendiri tidak sejalan dengan pemikiran filsafat Islam pada awal masuknya dari Yunani.
Pengaruh filsafat Yunani baru terjadi pada abad 12 M, masanya Suhrawardi (1153-1191), Ibn Arabi (1165-1240) dan Abd al-Karrim al-Jilli (1365-1402). Artinya, pengaruh Yunani baru masuk setelah doktrin dan ajaran tasawuf sangat mapan dan mengkristal menjadi tarekat-tarekat.










BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian singkat di atas tentang sedikit ulasan pengertian Tasawuf dan pembahasan tentang ayat-ayat dan hadits-hadits yang menjadi sumber Tasawuf dan juga tentang pandangan orientalis terhadap tasawuf maka dapat disimpulkan bahwa Tasawuf adalah usaha seseorang untuk mensucikan diri dari hal-hal yang dapat mengotori hati dan merusak ibadah, adapun Tasawuf jika dilihat dari dasar-dasar Qur’ani maupun Sunnah, maka dapat di pahami bahwa Tasawuf dan sufi memiliki posisi tertentu dalam lingkungan Islam atau dengan kata lain bahwa Tasawuf atau kehidupan sufi dapat ditemukan dalam Islam baik itu dijelaskan dalam Al-Qur’an, Hadits, maupun implementasi Nabi Saw dalam kehidupan sehari-hari demikian juga dengan para sahabat beliau dan tabi’in.
وكان ما كان مما لست أذكر # فظن خيرا ولا تسأل عن الخبر
"Dan terjadilah apa yang kuingat oleh karena itu, berbaik sangkalah anda dan jangan bertanya lagi tentang kabar ini" Itulah sebabnya, penyaksian-penyaksian para sufi bukanlah satu kebudayaan praktis. Dengan begitu, tidak akan mungkin dapat membicarakan sumber-sumber yang diluar apa pun sumbernya. Menetapkan masalah asal muasal tasawuf dalam pembehasan dan penyelidikan merupakan kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak memahami arti Tasawuf. Dan tidak dapat merasakanya sedikit pun dalam perasaan batin. Hasil yang disimpulkan bahwa kecenderungan pada tasawuf dan pengingkaranya hanya merupakan naluri keagamaan dan persiapan yang tidak matang. Adapu dzauqiyah ( perasaan batin) dan keadaan para sufi serta pengetahuan berasal dari cahaya dan hidayah.
Wallahu a’lam bish showab…
Unknown